
Judul buku: ”Kamu adalah Sahabat-Ku: Caritas, Virtus et Bonitas
Editor: Pieter Sambut; Markus Haluk
Jlh halaman: xviii + 296
Sinopsis
Hidup adalah sebuah panggilan, yaitu panggilan untuk menjadi rekan kerja Allah (co creator) untuk menjadikan dunia ini layak dan nyaman dihuni oleh seluruh makluk hidup. Dengan demikian, esensi dari panggilan manusia adalah kesempatan menjadi berkat bagi sesama dan alam semesta.
RD. John Djonga adalah salah seorang Imam Projo dari Keuskupan Jayapura yang dipanggil untuk mejadi berkat bagi sesama dan alam semesta, khususnya di tanah Papua. Imam bersahaja asal Manggarai, Flores ini tidak hanya menuntun umat di dalam rumah ibadah, tetapi juga menjadi perisai bagi mereka yang tertindas di Papua. Perjuangannya menegakkan hukum, HAM, keadilan, kesetaraan gender dan kelestarian lingkungan adalah khotbah yang nyata.
Dia adalah sedikit imam yang tidak membiarkan Altar Tuhan dan Mimbar Sabda tidak berjarak dari jeritan, air mata dan penderitaan umatnya yang terpinggirkan. Di tangannya, iman menjadi obat penawar bagi luka-luka ketidakadilan, pelanggaran HAM, diskriminasi gender dan kerusakan lingkungan.
Bagi RD. John, membela HAM, keadilan, kesetaraan gender dan keutuhan ciptaan bukanlah tugas politik, melainkan panggilan suci. Ketika dia sebagai seorang gembala turun ke jalan menyuarakan dan membela hak-hak dasar manusia yang tak bersuara (voice of voiceless), ia sedang membumikan Frman Tuhan.
Implementasi pelayanan pastoralnya yang tidak lazim dan bahkan melampui tugas pastoral mendapat apresiasi dari berbagai kalangan, baik nasional maupun internasional. Pastor John Djonga dianugerahi Yap Thiam Hien Award, 10 Desember 2009, sebuah pnghargaan bergengsi yang dianugerahkan kepada tokoh yang paling berjasa bi bidang penegakan keadilan, HAM, pendidikan, sehehatan dan kelestarian lingkungan.
Dedikasi Pastor JohnDjonga di bidang pelayanan pastoral dan kerja kemanusiaan bukan untuk dipuji atau mengejar popularitas. Namun jejak karyanya tak dapat dibantah atau diabaikan begitu saja. Sejumlah sahabat dan mereka yang pernah merasakan sentuhan tangannya yang penuh kasih memberikan kesaksian yang tulus, bahwa apa yang dilakukan oleh Pastor John Djonga adalah nyata dan berbuah manis bagi mereka yang terpinggirkan, dan tertindas. Ia ibarat garam, walaupun hanya sebutir, tetapi dapat menghalau kebusukan; ia adalah terang, walaupun hanya sebuah titik pijar bunga api, tetapi dapat menerangi mereka yang berjalan di kegelapan karena berbagai tekanan hidup.
