
“Kamu adalah Sahabat-Ku: Caritas, Virtus et Bonitas” – Terbakar dalam Cinta Kristus –
Judul buku: ”Kamu adalah Sahabat-Ku: Caritas, Virtus et Bonitas
Penulis: Pieter Sambut; Asunta Boina
Jlh halaman: xvii + 266
Sinopsis
Hidup adalah sebuah panggilan, yaitu panggilan untuk menjadi rekan kerja Allah (co creator) untuk menjadikan dunia ini layak dan nyaman dihuni oleh seluruh makluk hidup. Dengan demikian, esensi dari panggilan manusia adalah kesempatan menjadi berkat bagi sesama dan alam semesta.
RD. John Djonga adalah salah seorang Imam Projo dari Keuskupan Jayapura yang dipanggil untuk mejadi berkat bagi sesama dan alam semesta, khususnya di tanah Papua. Imam bersahaja asal Manggarai, Flores ini tidak hanya menuntun umat di dalam rumah ibadah, tetapi juga menjadi perisai bagi mereka yang tertindas di Papua. Perjuangannya menegakkan hukum, HAM, keadilan, kesetaraan gender dan kelestarian lingkungan adalah khotbah yang nyata.
Dia adalah sedikit imam yang tidak membiarkan Altar Tuhan dan Mimbar Sabda tidak berjarak dari jeritan, air mata dan penderitaan umatnya yang terpinggirkan. Di tangannya, iman menjadi obat penawar bagi luka-luka ketidakadilan, pelanggaran HAM, diskriminasi gender dan kerusakan lingkungan.
Bagi RD. John, membela HAM, keadilan, kesetaraan gender dan keutuhan ciptaan bukanlah tugas politik, melainkan panggilan suci. Ketika dia sebagai seorang gembala turun ke jalan menyuarakan dan membela hak-hak dasar manusia yang tak bersuara (voice of voiceless), ia sedang membumikan Frman Tuhan.
Meski jalan yang ditempuhnya penuh duri, ancaman, teror dan bahkan ancaman kematian, dia tidak gentar, apalagi mundur. Baginya, menjaga martabat manusia sama dengan merawat iman itu sendiri.
Implementasi pelayanan pastoralnya yang tidak lazim dan bahkan melampui tugas pastoral mendapat apresiasi dari berbagai kalangan, baik nasional maupun internasional.
Atas jasa-jasanya, Pastor John Djonga dianugerahi Yap Thiam Hien Award, 10 Desember 2009. Namun Pastor yang Pastor satu ini tetap menjadi sosok yang bersahaja. Ia hidup dan berjalan bersama umatnya, mendengarkan mereka, merangkul mereka dengan kasih tanpa membenci kelompok lain, menghapus air mata mereka, mengedukasi mereka dan menyuarakan suara mereka yang dibungam oleh kekuasaan.
