Close Menu
  • Home
  • Tentang Kami
  • Katalog
  • Jasa Sunting Buku
  • Jasa Editing Buku
  • Kontak Kami
Facebook X (Twitter) Instagram
Penerbit PMNPenerbit PMN
  • Home
  • Tentang Kami
  • Katalog
  • Jasa Sunting Buku
  • Jasa Editing Buku
  • Kontak Kami
Facebook X (Twitter) Instagram
Penerbit PMNPenerbit PMN
Home»Maria GS Ratna»Maria GS Ratna: Dari Faktisitas ke Pilihan Eksistensial
Maria GS Ratna

Maria GS Ratna: Dari Faktisitas ke Pilihan Eksistensial

Pieter SambutBy Pieter SambutJune 26, 2025No Comments6 Mins Read
Facebook WhatsApp Twitter Telegram Pinterest LinkedIn Tumblr Email
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email Copy Link

Filsuf kenamaan Jerman Martin Heidegger (1889 – 1976) dalam bukunya ”Sein und Zeit” atau “Being and Time,” yang artinya “Ada dan Waktu” menyebut tiga aspek atau tahapan penting hidup manusia dalam perziarahannya mencari dan menemukan jati diri yang otentik (asli).

Aspek/tahap pertama adalah faktisitas. Pada tahap ini manusia terlempar ke dalam dunia (in der Welt Zein) yang tidak bisa ditolaknya. Manusia terjebak dalam dunia, sehingga dia tidak menjadi otentik (inauthenticity), karena manusia tenggelam dan didominasi dunia. Dunia dengan segala pesonanya membuat manusia mengalami situasi yang oleh Heidegger disebut: ”Kelupaan akan Ada.” Artinya manusia diseret untuk tidak bereksistensi secara sungguh-sungguh atau eksistensi semu/palsu, yang oleh Heidegger disebut Das Zein. Eksistensi sebagai Das Zein membuat manusia belum menjadi dirinya dan cenderung menerima dirinya sebagai takdir.

Namun Tuhan menganugerahkan ratio (akal budi/kemampuan berpikir) dan kehendak bebas (liberum arbitrium) kepada manusia. Dengan ratio dan kehendak bebas itu manusia dapat melakukan retrospeksi dan refleksi atas keberadaannya.
Kemampuan reflektif mengantar manusia pada aspek atau tahap kedua, yaitu eksistensialitas. Pada tahap ini manusia mulai sadar akan ”Ada,” akan dirinya. Manusia mengubah pertanyaan dari ”apa itu manusia?” menjadi ”siapa itu manusia?” Artinya, manusia mulai menyadari diri sebagai satu-satunya makluk yang memiliki ratio dan kehendak bebas. Dengan ratio dan kehendak bebasnya manusia dapat bertanya tentang dirinya sendiri.

Pemahaman dirinya tentang faktisitas akan mengantarnya pada penemuan ”Ada,” yaitu otentisitas diri. Manusia memiliki kemampuan untuk mengenali keberadaan atau eksistensinya dan dengan ratio-nya manusia dapat mengatasi dunia yang semula menguasai dirinya. Sejarah atau perziarahan hidup yang dialaminya tidak lagi dijalani sebagai takdir. Dengan kemampuan reflektifnya manusia berjuang dan berusaha menembus tirai sejarah dan kungkungan dunia. Kemampuan reflektif manusia itu disebut ”transendensi.”

Kemampuan reflektif atau transendensi membawa manusia pada aspek atau tahap ketiga, yaitu pilihan eksistensial. Dalam transendensi, entitas Das Zein memiliki kemampuan dasar berupa kepekaan (Befindlichkeit) dan pemahaman (Verstehen). Ada kepekaan atau keprihatinan terhadap keterlemparan dalam dunia (faktisitas). Pada titik ini Das Zein tidak akan menerima begitu saja takdir atau pasrah pada keterlemparan dalam dunia. Dia tidak akan membiarkan dirinya dikuasai dunia. Manusia bertekad membangun kemungkinan-kemungkinan baru yang diharapkan dapat melepaskan diri dari kungkungan dunia. Manusia menyadari ketidakmampuan untuk menentukan awal mulanya terlempar ke dalam dunia. Ia tidak bisa memilih terlempar pada tempat yang dikehendaki. Manusia tidak bisa memilih lahir di Sok, di Borong, di Jakarta atau di New York. Juga tidak bisa memilih sebagai orang Manggarai, Jawa, Batak, Cina atau Eropa. Namun, ia sadar pula bahwa ia dapat membawa dirinya untuk mengatasi situasi yang tidak pernah ditentukannya sendiri. Inilah yang disebut ”kesadaran historis” (historical conciousness) dari manusia. Kesadaran historis dan kehendak bebas yang dimilikinya membawa manusia pada pemahaman diri yang terbuka pada kemungkinan-kemungkinan baru. Pada situasi ini ada upaya untuk meninggalkan takdir dan diganti dengan keaktifan dan kreativitas untuk menemukan otentisitas diri atau Das Sollen.

Berdasarkan pemikiran Heidegger di atas, saya coba menarik beberapa pokok penting dari aktualisasi diri Maria GS Ratna, S.H., penulis seri buku ”Merawat Ladang Kehidudan.”

Pertama, Maria GS Ratna adalah sebuah faktisitas yang orisinal. Dalam perspektif Heidegger, Ratna kecil terlempar ke dalam keluarga yang sederhana dan terlahir sebagai perempuan dengan status ata peang menurut adat Manggarai dengan segala akibatnya. Dia dibesarkan dalam historisitas sebagai anak perempuan biasa: seorang anak yang tidak pernah diam, senang berkegiatan, aktif di sekolah dan gereja, punya empati, kemauan yang teguh dan solider dengan sesama. Dia senang mengikuti orangtuanya ke ladang, memetik kopi, menanam jagung, menimba air, memasak dan sebagainya. Dia tidak bisa memilih terlahir dari keluarga kaya atau miskin, dari keluarga pejabat atau petani dan terlahir sebagai laki-laki atau perempuan. Dia terjebak dalam faktisitas.

Namun seiring perjalanan waktu, Ratna kecil memiliki modal yang cukup, yaitu kemauan kuat untuk mengatasi dirinya. Meskipun historisitasnya belum mendukung, ia tidak tinggal diam. Ia berusaha melawan dunia yang seolah-olah mengatakan, “Eee…..Ratna, kamu tidak bisa menjadi siapa-siapa.” “Untuk apa sekolah tinggi-tinggi, toh pada akhirnya berlabuh di dapur juga?” Namun kemauan kuatnya menjadi modal penting dalam mengatasi historisitasnya. Ia mulai menantang dirinya, berusaha menemukan dirinya yang otentik melalui kegiatan-kegiatan positif seperti aktif dalam kegiatan di sekolah, ikut koor, aktif di gereja, menjadi pekerja sosial, ikut olahraga dan lomba apa saja.

Kedua, dalam upaya menemukan jati dirinya, Ratna melakukan retrospeksi dan refleksi terus-menerus (eksistensi yang rerus-menerus). Ia ditantang untuk menemukan dan memahami dirinya sebagai anak perempuan. Pemahaman tentang dirinya inilah yang membuat Ratna termotivasi untuk menempa dirinya. Ia terbuka terhadap ilmu pengetahuan dan keterampilan (ikut UT, ikut pelatihan, seminar, workshop, retret, rekoleksi, ikut pameran atau festival, dll), belajar dan menghayati budaya dan adat istiadat warisan leluhur, mempelajari dan menghayati agama, etika/moral serta keutamaan-keutamaan lainnya.

Ketiga, dengan ratio dan kehendak bebasnya, Ratna mampu membuat pilihan eksistensial. Dia tidak menyerah pada takdir sebagai perempuan. Ia ingin berarti dan menjadi berkat bagi diri, orang lain dan lingkungan alam sekitar. Terlahir sebagai perempuan tidak membuatnya terkungkung dalam kodrat deterministiknya. Dia keluar dari lingkungan dapurnya dan mengaktualisasikan diri secara terukur dalam batas-batas budaya, etika dan moral.

Selain setia mengurus suami, anak-anak, cucu dan keluarga besar, Ratna meluangkan waktu yang hampir tak terbatas untuk melayani sesama, aktif di Gereja, membantu orang-orang susah dan para difabel, membela masyarakat adat, menangani KDRT, aktif mengedukasi kaum muda dan perempuan, mensosialisasikan kesehatan reproduksi dan HIV/AIDS serta PMS lainnya, bertani di ladang, menjadi pelaku UMKM, aktif melestarikan lingkungan dan aktif dalam dunia politik sebagai kader partai Nasdem.

Hebatnya lagi, di tengah aktivitasnya yang super sibuk itu, Ratna masih meluang waktu untuk melakukan refleksi atas pengalaman dan pergumulan hidupnya. Refleksi itu dilakukan dalam suasana doa dan ditulis dalam catatan lepas yang tercecer dimana-mana. Kumpulan catatan refleksi yang tercecer tentang nilai-nilai kemanusiaan (humanistic values) yang semakin memudar dan tragedi kemanusiaan yang mengancam itu kemudian disatukan dalam totalitas sebuah buku, ”Merawat Ladang Kehidupan.” Seri buku yang diterbitkan pada Mei 2025 oleh PT Pelopor Media Nusantara tersebut dari tiga buku dengan sub judul masing-masing: ”Menanam Doa & Menabur Kasih” (41 bab, setebal 180 halaman); ”Belajar Menjadi Berkat” (41 bab, setebal 165 halaman); dan ”Ladang Keringat, Air Mata & Senyum Tawa” (67 bab, setebal 162 halaman).

Seri buku Merawat Ladang Kehidupan ini merupakan sebuah narasi, penuturan atau cerita tentang pergumulan hidup personal penulisnya bersama orang lain, alam lingkungan sekitar dan pengalaman spiritualnya dalam merasakan kehadiran Sang Pemberi Kehidupan. Itu tidak berarti seri buku ini tidak memiliki bobot dan pesan penting. ”Don’t judge the book by its cover;” ”Don’t judge the book by its author” – Jangan menilai buku dari sampulnya. Jangan menilai buku dari penulisnya. Artinya, jangan buru-buru menilai kualitas sebuah karya berdasarkan penampilannya atau penulisnya.

Manusia zaman ini memang cenderung lebih terpesona oleh polesan make up dan performance yang aduhai, daripada karakter atau integritas kepribadian. Atau terpesona terpesona dengan gelar akademik seseorang yang berderet-deret, bahkan lebih panjang dari nama lengkapnya.

Padahal, gelar akademik atau ijazah kata Rocky Gerung hanya sebagai bukti bahwa seseorang pernah sekolah/kuliah. Tetapi fenomena di Indonesia agak aneh, gelar akademik dan ijazah bisa didapat tanpa sekolah/kuliah. Gelar akademik atau ijazah dianggap sebagai aksesori (riasan) untuk mendongkrak status sosial. Karena itu, gelar akademik dan ijazah tidak linear dengan bobot dan kedalaman sangkar intelektual seseorang. Banyak orang yang menyandang gelar akademik tinggi, tetapi tidak memiliki produk intelektual dalam bentuk buku, jurnal ilmiah dan sebagainya. Adnan Buyung Nasution menyebut para penyandang gelar akademik tinggi yang tidak menulis sebuah bukupun sebagai “Doktor Pohon Pisang” – sekali berbuah (disertasi), tidak berbuah lagi. *

Pieter Sambut

Share. Facebook WhatsApp Twitter Telegram Pinterest LinkedIn Email Copy Link

TERKAIT LAINNYA

Merawat Ladang Kehidupan: Ladang Keringat, Air Mata & Senyum Tawa

April 30, 2025

Merawat Ladang Kehidupan: Belajar Menjadi Berkat

April 30, 2025

Merawat Ladang Kehidupan: Menanam Doa & Menabur Kasih

April 30, 2025
TERBARU

Maria GS Ratna: Dari Faktisitas ke Pilihan Eksistensial

June 26, 202537 Views

Merawat Ladang Kehidupan: Ladang Keringat, Air Mata & Senyum Tawa

April 30, 202535 Views

Merawat Ladang Kehidupan: Menanam Doa & Menabur Kasih

April 30, 202529 Views

Merawat Ladang Kehidupan: Belajar Menjadi Berkat

April 30, 202515 Views
About Us
About Us

PT Pelopor Media Nusantara (PNM), didirikan pada 2018 di Jakarta, adalah penerbit buku yang berkomitmen menghadirkan karya-karya berkualitas, baik fiksi, nonfiksi, maupun terjemahan. Kami juga melayani jasa penyuntingan buku dan karya ilmiah secara profesional. Beberapa buku unggulan kami termasuk seri Merawat Ladang Kehidupan dan karya biografi serta akademik.

Email Us: kasenaek@gmail.com
Contact: 0822 9922 4139; 0814 1223 6487

Facebook X (Twitter) YouTube WhatsApp
© 2026 Penerbit PMN - Pelopor Media Nusantara

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.